a k a n   t e r b i t !

Jumat Hijau
sampul depan

Judul: Jumat Hijau
Judul Asli: Groene vrijdag
Penulis: Elvin Post
Alih Bahasa: Laurens Sipahelut
Tebal: ± 308 hlm
Ukuran: 14 cm x 21 cm
ISBN: -
Harga: Rp 60.500

Elvin Post Elvin Post lahir di Rotterdam (Belanda) pada 1973. Pada 1997, kala menjadi magang di suatu agen sastra di Amsterdam, Post mendapat kesempatan untuk bekerja di agen sastra milik Ralph Vicinanza di Manhattan, New York (antara lain Stephen King, Michael Marshall, Robin Hobb). Di sana ia bekerja selama sekitar setahun. Selama menetap di AS ia juga mulai menulis resensi buku thriller untuk sebuah harian di Belanda dan mewawancarai antara lain Scott Turow, Carl Hiaasen, Nicci French, David Baldacci, Elmore Leonard, Michael Connelly, Ruth Rendell, Lee Child, George Pelecanos, Martin Cruz Smith, Minette Walters, Ian Rankin, Mark Billingham, dan Arnaldur Indridason.

Terinspirasi masa tinggalnya di Manhattan, ia menoreh Groene vrijdag (Jumat Hijau) yang di Belanda langsung dinobatkan sebagai buku thriller terbaik 2004. Novel kedua yang lahir dari penanya, Vals beeld (Palsu), dinominasikan sebagai thriller terbaik 2006. Hak cipta film Groene vrijdag dan Vals beeld telah terjual, dan karya Post telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman, Prancis, Spanyol, Turki, dan Ibrani.

Post tinggal di Rotterdam bersama istrinya yang berkebangsaan Amerika, dua putri mereka, dan dua ekor anjing.

(sumber: www.elvinpost.nl)

 

Winston Malone merasa ia harus mengubah peruntungan. Ia tinggal di sebuah apartemen kumuh di Staten Island, New York, bersama Cordelia, istrinya, dan ia tidak sreg dengan pekerjaannya -apalagi gajinya- di sebuah kantor keuangan. Ketika kesulitan melunasi sofa tiga bangku yang ia belikan istrinya, Winston memutuskan untuk mengamalkan wejangan terakhir almarhum ayahnya. Jadilah ia terlibat dalam aksi penculikan seorang bintang soap opera dan patgulipat penuh bahaya bertaruhan dua juta dolar....

 
sampul depan
Nantikan juga thriller berjudul Palsu (Vals beeld) dari pengarang yang sama!

Enam tahun lamanya Vincent Bloom dan Elijah Fish mengadali dunia seni sejagat raya dengan melepas lukisan-lukisan palsu ke pasar yang mereka aku sebagai adikarya yang baru ditemukan kembali. Tidak tanggung-tanggung, lukisan yang mereka jiplak adalah karya para maestro dunia seperti Picasso, Giacometti, Matisse, Degas, dan Chagall. Semua balai lelang besar tersemu. Sampai akhirnya Bloom dan Fish masuk bui karena apes. Tujuh tahun kemudian mereka kembali menghirup udara bebas.

Boston Red Sox bakal mengecap gelar juara World Series untuk pertama kali dalam 86 tahun dan seisi kota sedang riuh rendah. Bloom lantas mengajak Fish menggasak sejumlah besar lukisan dari Museum Isabella Stewart Gardner di Boston, termasuk 'Kristus di tengah badai di danau Galilea' karya Rembrandt dan 'Konser' karya Vermeer. Rencana edan. Atau justru tidak?

cv wormer jaya